Ketemu Hanny di Den Haag

IMG-20161116-WA0004.jpg
Depan Kantor Kedutaan RI di Den Haaq

Ada banyak agendaku ke Belanda. Selain mau mengunjungi Kedutaan di Den Haag, pelesir : ke Volendam, kanal, pabrik berlian, ada satu lagi, yakni ketemu Hanny (bukan honey) Nurjehap, yang kini netap di Den Haag Nederland. Jauh sebelum hari H keberangkatan ke sana, saya sudah ngontak dia, via sosmed lanjut WA. Dia senang dapat kabar itu, maklum sudah lama tak basuo. Kepadaku dia mesen dibawain colenak buatan Bandung, sayang permintaannya tak kukabulkan, maaf ya bu..

Alih-alih membawakan colenak, kutawarkan kaos Persib, kaos kebanggan warga Jabar. Dia suka tawaran itu, untuk anak semata wayangnya. Alhasil, sehari sebelum go to Nederland, saya kontak Oki Ahmad Ismail, yang juga teman Hani, biasa…minta (ngutang) kaos Persib, dua pcs, untukku dan untuk Hanny. Tanpa lama, Oki mengiyakan, dan besoknya dua kaos jersey tiba ditanganku. Nuhun lur..

Saat transit di Istanbul Turki, kukabari Hanny, kalau siang waktu Belanda, aku akan tiba di Amsterdam. Dia minta, setibanya Bandara Schiphol, untuk mengabarinya. Sekira jam 11 waktu sana, saya tiba di Amsterdam. Cuaca dingin langsung menusuk tulang, maklum long jone yang kubeli di Sukajadi belum kupakai. Bahwa Bandung dingin itu betul, tapi jika dibandingin dengan Amsterdam dikala winter, taka da apa apanya. 5 derajat bro.

Kukabari Hanny, bahwa besok saya akan ke kedutaan di Den Haag, dan tiba di sana diperkirakan sekitar pukul 10.00. Jam 8 pagi, dikala lunch, saya kabari lagi. Dia bilang, diusahakan akan ke kedutaan setengah jam sebelum aku tiba, dan dia buru-buru mengantar anaknya sekolah. Katanya, inda pake rumpi dulu di sekolah, karena sudah kangen ingin ketemu denganku, hahay…

Perjalanan Amsterdam-Den Haag pakai bus, sekitar dua jam, padahal jaraknya lumayan jauh. Lebih jauh ketimbang dari Bekasi ke Tanggerang, yang kadang perjalan antara kedua kota metro tersebut bisa menghabiskan waktu sampai lima jam. Kukira kalian tau penyebabnya ya?

Setibanya di kantor kedutaan, Hanny sudah standby di sana, tepatnya di bale belakang ruang pertemuan di kedutaan. Salaman, tak pakai cipiki cipika, cukup tatapan mata tajam saja?. Hanny, oh kamu ternyata masih sama seperti yang dulu; ramah, someah hade ka semah (sunda, ramah kepada tamu), dan senyuman khasnya masih juga tak berubah, menurutku. Meski sudah fasih berbahasa Belanda dan Inggris, gaya bahasa Sunda dia tetap saja lekoh (sunda, kental). Beda dengan salah satu artis kita yang ngomong bahasa Indonesia rasa Inggris. Atau tetangga saya yang pernah jadi TKW di Taiwan, padahal Cuma setahun di sana, pas ketemu saya di pematang sawah di Sukabumi selatan, beberapa tahun silam, dia nyapa pakai bahasa Inggris versi Taiwan. Tak aneh memang, itulah kadar mapan dan sebeliknya, kukira.

Hanny adalah temen kuliahku di Bandung, angkatan 2000, dan sejak lulus kuliah, dia menikah dengan warga Nederland dan ikut menetap di Negara suaminya. Kami tak bertemu di darat sudah 12 tahun, waktu yang tidak sebentar.

Dua menit saja obrolan pertama itu, selanjutnya saya harus masuk ruang pertemuan bersama Bapak Dubes Indonesia di Belanda. Pak Dubes, menceritakan, bahwa dirinya sedang sibuk jajaki kerja sama dengan Negara Ratu Juliana tersebut. Beliau juga menyinggung soal pasang surutnya hubungan Belanda Indonesia, yang disebabkan cerita masa lalu, yang belum dimaknai sama diantara keduanya. Namun demikan, kita tak terlalu baik kalau terus hanyut dengan masalah itu. Do the best saja, ucapnya. Dan satu hal lagi, beliau berpesan kepada kami, bahwa Indonesia bukan Negara kecil, bodoh, imperior, melainkan sebagai calon raksasa. Itu artinya, tak sedikitpun memberi ruang kepada bangsa asing untuk bersikap dan bertindak merendahkan kita. Saya sepakat!

Usai sambutan, berikutnya foto-foto, tapi saya memilih menghampiri Hanny di belakang. Kulanjutkan lagi obrolan kangen kami itu. Kepadaku dia ngaku kresan tinggal di Nederland, tapi kalau sedang ingat Bandung, dia jadi sedih, katanya sok asa jauh panineungan (sunda, apa bahasa Indonesianya?). Arah obrolan berikutnya, soal rumah tangga, anak, istri, suami. Anak dia, masih TK, sama dengan anak sulungku, Anaking Prabu Alandra.

Selain ketemu Hanny, ada juga seorang Ibu, ngakunya dari Cikutra Bandung, sedang main ke kantor kedutaan dan ikut ngobrol bersama kami. Si Ibu yang bersuamikan Belanda itu, sudah delapan tahun tak pulang kampung. Kepada saya, dia memperkenalkan, seorang gadis cantik, bule, jangkung, dan ternyata itu anaknya. Warbiasah….

Sekira 10 menit, pertemuan langka ini harus diakhiri, karena kami akan melanjutkan perjalanan ke Brussel Belgia. Saya pun menyerahkan kaos Persib sebagai oleh-oleh dari tanah air. Agar tampak dramatis, penyerahan kaos kebanggan sebagian anak bangsa ini, dilakukan di depan kantor kedutaan, di bawah bendara merah putih. Sengaja dicari angle yang keren, biar punya rasa dan cerita.

Kepadaku Hanny menitip cokelat Belanda untuk keluarga di Bandung. Meski berat rasanya (Karena masih ingin berbagi cerita) akhirnya aku harus pamit, melanjutkan perjalanan ke negara lain. Itulah perjalanan hidup, ceritanya selalu menarik, dramatis, dan unik. (*)

Advertisements

4 thoughts on “Ketemu Hanny di Den Haag

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s