Aku Diintrogasi Imigrasi Belanda

tiket-jpgAku ingin menceritakan pengalaman yang teramat berharga, saat tiba di Schiphol Amsterdam Belanda. Oh iya, aku tiba di air port terbesar di Eropa tersebut sekira pukul 11.00 waktu sana. Menumpang pesawat Turkey Airline, No penerbangan TK 1951.

Gini ceritanya, setibanya di bandara, kami menyemut di depan loket imigrasi. Saking penuhnya antrean, akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari deretan rombongan kami yang berjumlah 53 orang. Akhirnya saya, nyelip di antara bule-bule di lajur berbeda. Di depan bule Eropa, di belakang, kukira dari Kazastan atau Uzbekistan atau Negara sekitar itu. Hispanik tampaknya, kulitnya putih, tidak bule bule amat.

Saat ngantre itu, saya mengenakan kaos hitam bertuliskan tauhid dalam hurup arab. Kalo dipikir piker agak mirip ISIS. Itu kaos depan belakang ada tulisan itu. Keberadaanku di antara berjubelnya antrean emang kontras. Kontras karena kaos itu dan tentunya postur ama mukaku yang belakangan disadari mirip bangsa Asia Timur. Hehe.

Tiba giliranku menyerahkan paspor, si petugas langsung menaruh muka curiga. Lalu dia nanya, “Kamu mau apa ke sini? Mau stay atau turis”? kujawab “turis mbak”.

Dapat jawaban itu, si mbak bule itu diam sejenak, lalu memanggil temen-temen petugas imigrasi bersenjata pistol. Lalu dia, menujuk kearah ku, dan sejurus kemudian, pake bahasa isyarat dia menyuruhku mengikuti petugas bersenjata itu. Gimana suasana hatiku?. Jujur saja, cemas ada, tapi dalam kadar kecemasan yang wajar. Buktinya, aku tak sampai panas dingin, malah dalam hati, jadi penasaran. Dalam kesombongan, saya malah bangga karena ada pengalaman diintrogasi di bandara Negara paling familiar dikuping bangsa Indonesia ini.

Si petugas imigrasi itu menggiring saya ke dalam ruang introgasi, jaraknya sekira 10 meter dari loket. Bismillah, saya masuk ruangan yang menghadap halaman loket tersebut. Sementara pasporku masih saja di pegang sama dia. Dia minta saya menunggu sejenak di ruang tersebut. Berikutnya, dia kembali menghardiku sembari membawa serta temannya, yang postur tubuhnya membuat saya agak ciut. Kukira dua meter tinggi petugas yang kemudian meminta saya untuk mengikutinya ke ruangan lain. Waduh, mati aku, dalam gumam batinku yang mulai ciut tersebut.

Kebingungan sangat mulai muncul. Apa pasal? Saya mau menghubungi temen rombongan, sinyal wifi Bandara luplep. Itu juga sudah lumayan, pas turun dari pesawat, saya kreatif mencari wifi gratis dan menemukannya, dan konek. Kebingunganku belum usai, lantas si petugas jangkung bersenjata pistol kiri kanan tersebut, mulai mengintrogasiku. Jangan ditanya, kalau soal gaya sinis dia. Bayangin saja sendiri.

Pertama-tama dia nanya, apakah saya bisa bahasa Engris? Saya Jawab bisa. Lalu dia Tanya lagi, apa maksud kedatangan ke negaranya? Saya Jawab mau berwisata. Berapa lama di sana? Dua hari? Nginep dimana? Ibis hotel kujawab. Ibis hotel mana? Dekat Bandara. Terus kamu mau kemana lagi setelah dari Belanda? Ke Belgia dan ke Prancis kujawab. Kamu punya uang berapa? Rp 25 juta, di Bank BNI. Nah, selama dia introgasi, matanya terus menatap tulisan “TAUHID” di kaosku. Lantas dia keluar ruangan

Kini giliranku bertanya kepadanya. What wrong with me sir?

Dia malah ngeloyor ke luar ruangan. Tak lama kemudian, dia muncul lagi, dan langsung mempersilahkan saya untuk pergi. Si jangkung serem itu, lantas mengantarkanku ke pintu keluar. Dia membukakan pintu kaca itu, sambil senyum bersahabat. Akhirnya, kukira dia tak mencurigaiku sebagai teroris, karena mukaku sama sekali tak “lazim” sebagai teroris versi barat. Mungkin mereka hanya ingin kenalan saja denganku, dengan kaum bumiputra yang dulu di label sebagai inlander. Salam kenal mister, nice to meet you. hahah

Saat keluar, kudapati Ibu Menik berdiri di depan pintu. Bu Menik itu ketua romobongan dari pihak travel. Saya lega sekaligus bangga, Bu Menik lega kukira hatinya.

Aku menyusul rekan-rekan di depan boarding. Mereka, kbhususnya Pak Andres tampak cemas, sementara rekan yang lainnya tampak khawatir. Eh aku malah senyum mengembang, sambil cengengesan, kukatakan pada mereka, aku lulus ujian. Hahaha. (*)

 

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Aku Diintrogasi Imigrasi Belanda

  1. Mohon sebarkan biar lebih manfaatnya kepada yang lain supaya lebih berhati-hati , soalnya Eropa sedang paranoid tentang keberadaan Islam karena Isis merusak citra Islam yang begitu indah di mata dunia .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s